26 Oktober 2026

BANGKA SELATAN, Faktamediababel.com – Proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, senilai Rp 43,08 miliar menjadi sorotan setelah sejumlah bagian saluran dilaporkan mengalami keretakan, meski pekerjaan belum rampung. Pekerjaan tersebut diduga di kerjakan asal – asalan, Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas konstruksi dan kesesuaian pelaksanaan proyek dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai pagu sebesar Rp43.086.980.000. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Graha Anugerah Lestari dengan pengawasan konsultan supervisi PT Geodinamik Konsultan KSO bersama PT Jasa Perencana Nusantara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek tersebut menggunakan nomor kontrak HK.02.01/02/KONST/E-PUR/BWS.4.7.1/2026, dengan masa pelaksanaan selama 270 hari kalender sejak 30 Maret 2026.

Namun, kondisi fisik saluran yang dilaporkan mengalami keretakan sebelum pekerjaan selesai memunculkan kekhawatiran mengenai mutu bangunan yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air pertanian masyarakat.

Pantauan awak media di lokasi pada Minggu (25/10/2026) menemukan sejumlah bagian dinding saluran irigasi mengalami keretakan. Selain itu, terdapat bagian yang dilaporkan retak dan berlubang, kemudian ditutup menggunakan lapisan acian adukan semen.

Temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan teknis oleh pihak berwenang untuk memastikan penyebab keretakan, kualitas material, metode pelaksanaan, serta kesesuaian hasil pekerjaan dengan dokumen kontrak.

Hingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, penyebab keretakan maupun ada atau tidaknya pelanggaran spesifikasi teknis belum dapat dipastikan. Karena itu, evaluasi teknis menjadi penting agar kondisi tersebut tidak dibiarkan tanpa penanganan.

Kondisi jaringan irigasi tersebut turut menjadi perhatian petani Desa Rias. Salah seorang petani, surya, menilai kualitas konstruksi harus menjadi prioritas karena saluran irigasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian.

Ia menjelaskan, lahan persawahan di Daerah Irigasi (D.I.) Rias seluas sekitar 11 hektare telah ditanami padi sejak puluhan tahun. Menurut surya, pembangunan infrastruktur irigasi dengan anggaran puluhan miliar rupiah semestinya mampu memberikan manfaat nyata bagi petani.

“Proyek yang menghabiskan uang negara puluhan miliar ini berupaya mendukung keberlangsungan pertanian dan menjaga harapan para petani di tengah musim kekeringan. Kalau melihat kondisi seperti ini, nampak jauh panggang dari api,” katanya.

Surya, menilai keretakan pada dinding saluran kemungkinan terlalu muda adukan sen nya dan ada sedikit terlihat masih menggunakan batu gunung yang lama, serta adanya bagian yang dilaporkan ditutup dengan acian semen perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, kondisi tersebut harus diperiksa secara menyeluruh agar kualitas pekerjaan benar-benar dapat dipastikan.

Ia berharap pihak pelaksana maupun instansi yang bertanggung jawab tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan secara fisik, tetapi juga memastikan konstruksi memenuhi standar mutu dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Surya, meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung memperketat pengawasan terhadap proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Rias. Ia menilai pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai ketentuan.

Sejumlah aspek yang perlu dievaluasi antara lain dimensi dan ketebalan saluran, mutu materia, kondisi sambungan konstruksi, kemiringan saluran, volume pekerjaan, serta kekuatan struktur bangunan.

Pemeriksaan tersebut juga perlu mencakup kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis, rencana anggaran biaya (RAB), dan ketentuan yang tercantum dalam kontrak.

Menurut surya, Pengawasan yang ketat dinilai penting agar anggaran negara yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pertanian benar-benar menghasilkan bangunan berkualitas dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Munculnya temuan keretakan sebelum pekerjaan rampung menjadi alasan bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi secara objektif dan terukur. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk membedakan keretakan yang bersifat permukaan dengan kerusakan yang berpotensi memengaruhi kekuatan maupun fungsi saluran.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, kontraktor perlu melakukan perbaikan sesuai rekomendasi teknis dan ketentuan kontrak. Di sisi lain, konsultan supervisi juga perlu memastikan pelaksanaan pekerjaan diawasi sesuai tanggung jawabnya.

Klarifikasi dari BWS Bangka Belitung, kontraktor pelaksana PT Graha Anugerah Lestari, serta konsultan supervisi diperlukan untuk menjelaskan kondisi saluran yang ditemukan di lapangan, langkah evaluasi yang akan dilakukan, dan upaya penanganan apabila kerusakan terbukti berkaitan dengan mutu pekerjaan.

“Sebab, keberhasilan proyek irigasi tidak semata-mata diukur dari selesainya pembangunan, tetapi juga dari kualitas konstruksi, fungsi saluran, serta manfaatnya dalam menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat,” tutup Surya.

Hingga berita ini diterbitkan, pehik media masih berupa mengkonfirmasi pihak BWS Bangka Belitung, kontraktor pelaksana PT Graha Anugerah Lestari, untuk  mengklarifikasi penyebab keretakan dan tanggapan resmi pihak-pihak terkait untuk keberimbangan berita tersebut.

Share this content:

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *