
Bangka Selatan, Faktamediababel.com — Menjelang dua hari pelaksanaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, suasana aktivitas jual beli di Pasar Pagi Bangka Selatan terlihat tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang mengaku terjadi penurunan jumlah pembeli yang cukup terasa, terutama pada komoditas kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga yang biasanya mengalami peningkatan menjelang hari besar keagamaan.
Pantauan Redaksi Faktamediababel.com di Pasar Pagi Bangka Selatan pada Senin (25/5/2026), sejumlah lapak pedagang tampak masih dipenuhi barang dagangan. Aktivitas masyarakat yang datang untuk berbelanja juga terlihat belum menunjukkan lonjakan seperti yang umumnya terjadi saat mendekati Hari Raya Qurban.
Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dalam beberapa waktu terakhir dirasakan cukup berdampak terhadap daya beli masyarakat, khususnya bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan sawit.
Salah seorang pedagang di Pasar Pagi Bangka Selatan, Indra, mengatakan penurunan jumlah pembeli sudah mulai terasa dalam beberapa hari terakhir menjelang Iduladha. Menurutnya, biasanya mendekati hari raya kondisi pasar akan dipadati masyarakat yang membeli berbagai kebutuhan.
Namun pada tahun ini, situasi terlihat berbeda dibandingkan sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun lalu, memang terasa jauh berkurang. Biasanya H-3 atau H-2 hari raya itu pasar sudah ramai, orang belanja untuk kebutuhan di rumah, ada yang beli bahan makanan, perlengkapan dapur, dan lainnya. Sekarang masih terlihat sepi,” ujar Indra saat ditemui, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, sebagian masyarakat saat ini tampaknya lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk berbelanja. Kondisi ekonomi dinilai menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap pola belanja masyarakat.
Indra menyebut sebagian besar pelanggan yang datang hanya membeli kebutuhan yang dianggap penting dan mendesak. Bahkan tidak sedikit pembeli yang mengurangi jumlah belanja dibandingkan hari-hari biasanya.
“Kita lihat masyarakat sekarang lebih menghemat pengeluaran. Kalau biasanya beli beberapa jenis barang, sekarang ada yang beli seperlunya saja. Ada juga yang bilang menunggu kondisi ekonomi membaik dulu,” katanya.
Ia menilai turunnya harga sawit menjadi salah satu penyebab melemahnya daya beli masyarakat. Sebab, cukup banyak masyarakat Bangka Selatan yang menggantungkan pendapatan dari sektor perkebunan kelapa sawit.
Ketika harga sawit mengalami penurunan, menurut Indra, secara langsung akan berpengaruh terhadap pendapatan para petani dan efeknya turut dirasakan sektor perdagangan di pasar tradisional.
“Karena di sini banyak masyarakat yang bergantung dari hasil sawit. Kalau harga sawit turun, pendapatan otomatis ikut berkurang. Saat pendapatan berkurang, pengeluaran juga pasti disesuaikan. Dampaknya sampai ke pedagang pasar seperti kami,” jelasnya.
Meski demikian, para pedagang masih berharap terjadi peningkatan aktivitas belanja menjelang satu hari sebelum Hari Raya Qurban. Sebab, tidak sedikit masyarakat yang memiliki kebiasaan berbelanja pada waktu-waktu terakhir.
Menurut Indra, harapan para pedagang saat ini adalah adanya peningkatan pembeli agar perputaran ekonomi di pasar kembali membaik.
“Kami berharap besok atau H-1 sudah mulai ramai. Biasanya memang ada masyarakat yang menunggu mendekati hari pelaksanaan baru berbelanja. Mudah-mudahan kondisi bisa berubah dan pembeli meningkat,” harapnya.
Selain itu, ia juga berharap kondisi harga komoditas perkebunan, khususnya sawit, dapat kembali stabil agar perekonomian masyarakat dapat kembali membaik.
Sebab menurutnya, pergerakan ekonomi masyarakat di daerah sangat berkaitan erat dengan sektor perkebunan yang menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang tetap berupaya bertahan dan melayani kebutuhan masyarakat seperti biasanya. Mereka berharap momentum Hari Raya Qurban tetap mampu memberikan dampak positif terhadap roda perekonomian masyarakat dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Situasi pasar yang cenderung sepi menjelang hari besar keagamaan menjadi perhatian tersendiri, mengingat momen seperti Iduladha umumnya identik dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Namun kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini tampaknya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli di lapangan.
Ke depan, para pelaku usaha kecil dan pedagang berharap kondisi ekonomi masyarakat kembali membaik sehingga aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Bangka Selatan dapat kembali bergairah seperti sebelumnya.
Share this content:
