
Bangka Selatan, Faktamediababel.com — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan menggelar Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pencegahan serta Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular Prioritas di Hotel Sewarna Manunggal Toboali, Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mengevaluasi capaian program kesehatan sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor guna mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayah Kabupaten Bangka Selatan.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala DKPPKB Kabupaten Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa, menyampaikan paparan mengenai capaian Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) Tahun 2026. Pembahasan mencakup 11 prioritas penanganan penyakit, meliputi HIV, Tuberkulosis (TB), Malaria, Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), Demam Berdarah Dengue (DBD), Kusta dan Frambusia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Diare, Hepatitis, Filariasis, serta Kecacingan.
Melalui rapat koordinasi ini, berbagai upaya penanganan penyakit menjadi perhatian bersama, khususnya dalam meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan, memperluas cakupan deteksi dini, serta memperkuat langkah pencegahan di tengah masyarakat. Evaluasi terhadap pelaksanaan program juga menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi tantangan dan menyelaraskan strategi penanganan agar dapat berjalan secara optimal dan berkesinambungan.
Pada pembahasan penanggulangan HIV, dr. Agus Pranawa menekankan pentingnya penguatan deteksi dini, perluasan akses layanan kesehatan, serta edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan akses layanan konseling dan tes HIV atau Voluntary Counseling and Testing (VCT), perluasan skrining bagi kelompok berisiko dan ibu hamil, serta memastikan ketersediaan pengobatan Antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, penanganan HIV tidak hanya berfokus pada aspek pengobatan, tetapi juga membutuhkan dukungan edukasi dan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara dini. Selain itu, pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas stigma menjadi salah satu faktor pendukung agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan dengan aman dan nyaman.
“Upaya penanggulangan HIV membutuhkan pendekatan proaktif melalui perluasan cakupan skrining dan edukasi yang berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk memastikan layanan konseling dan pengobatan dapat diakses dengan mudah, aman, serta bebas dari stigma,” ujar dr. Agus Pranawa.
Selain HIV, pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) turut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi tersebut. Berdasarkan data yang dipaparkan, akumulasi kasus dengue di Kabupaten Bangka Selatan hingga minggu ke-39 Tahun 2026 tercatat sebanyak 147 kasus yang tersebar di delapan kecamatan, dengan tidak terdapat kasus kematian.
Adapun sebaran kasus berdasarkan wilayah kerja puskesmas meliputi Puskesmas Simpang Rimba sebanyak 37 kasus, Payung 32 kasus, Rias 23 kasus, Toboali 18 kasus, Air Gegas 17 kasus, Batu Betumpang 9 kasus, Tiram 5 kasus, Tanjung Labu 4 kasus, Air Bara 2 kasus, serta Puskesmas Pongok yang tidak mencatatkan kasus. Dalam pemaparan tersebut, Kecamatan Toboali juga menjadi wilayah dengan angka incidence rate tertinggi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, upaya pencegahan dan pengendalian DBD terus didorong melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Gerakan 3M Plus. Gerakan ini meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Sementara itu, langkah Plus dilakukan melalui berbagai tindakan pencegahan tambahan, seperti menggunakan kelambu saat tidur, menaburkan larvasida pada tempat penampungan air, menggunakan obat atau losion antinyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, serta menjaga kebersihan lingkungan.
dr. Agus Pranawa menyampaikan bahwa keberhasilan pengendalian DBD membutuhkan peran aktif seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, pelaksanaan PSN melalui Gerakan 3M Plus harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, tidak hanya ketika terjadi peningkatan kasus, tetapi juga sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemberantasan sarang nyamuk melalui Gerakan 3M Plus adalah langkah paling efektif dan efisien yang harus dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat demi memutus rantai penularan DBD,” ungkapnya.
Melalui pelaksanaan rapat koordinasi dan sosialisasi ini, DKPPKB Kabupaten Bangka Selatan berharap seluruh jajaran Puskesmas, fasilitas pelayanan kesehatan, serta elemen masyarakat dapat semakin memperkuat sinergi dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit. Koordinasi yang terarah, didukung peningkatan kesadaran masyarakat dan optimalisasi pelayanan kesehatan, diharapkan mampu menekan angka penularan penyakit serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan.
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan terus berkomitmen mendorong penguatan pembangunan sektor kesehatan melalui berbagai langkah pencegahan, pengendalian, dan peningkatan kualitas pelayanan. Dengan dukungan seluruh pihak, diharapkan terwujud masyarakat Bangka Selatan yang lebih sehat, produktif, dan terlindungi dari ancaman penyakit menular maupun tidak menular.
Share this content:
